Thursday, February 5, 2009

Dari Baterai sampai Dubai {Bagian 2}

Masih ingat kan kawan kalau gw menenteng 5 pasang baterai dalam ransel? Nah, siapa sangka gw akan kesusahan gara-gara baterai tersebut. Pas ransel gw di-X-ray, tiba-tiba Bapak petugasnya bilang, "Kok baterainya banyak sekali itu?"
Dengan cepat gw jawab, "Kan buat cadangan, Pak." Sembari harap-harap cemas juga karena ada teguran seperti itu.

"Maksimal cuma boleh tiga pasang. Keluarkan yang lainnya."

Blaarrrrr...!!! Rasa-rasanya gw mau nangis sekaligus marah. Apa-apaan ini, di papan peringatan tidak disebutkan sama sekali tentang jumlah baterai yang boleh dibawa. Jengkel betul rasanya. Apalagi kemudian ibu-ibu petugas yang ada di sana memberi saran terkonyol yang pernah gw dengar, "Masukin aja ke bagasi."

Hah? Gimana caranya Bu, bagasinya kan sudah didaftarkan, sudah masuk. Mana bisa ditarik lagi. Kalau bagasinya belum dimasukkan, ya gw tidak akan masuk ruang tunggu ini. Betul-betul konyol! Akhirnya dengan terpaksa setelah berdebat kecil-kecilan -gw tahu akan kalah, karena mereka memegang peraturan- gw keluarkan dua pasang baterai Energizer yang belum pernah dipakai sama sekali itu.

Terus terang saat itu saking jengkelnya, gw tidak bisa berpikir cepat. Baru lima menit kemudian gw terpikir untuk minta sopir untuk jemput lagi ke bandara. Sialnya, karena gw pakai hp lain, jadi nomor si Pak sopir tidak ada di sana. Whoaaa, terpaksa telepon ke toko dulu minta bokap yang telepon. Padahal sepuluh menit lagi pesawatnya berangkat.
Begitu gw ambil lagi baterai tadi - setelah minta izin dulu tentunya- gw langsung lari ke bawah menunggu jemputan baterai.

Antara takut ditinggal pesawat dan berharap Pak sopir tetap bisa membawa pulang baterainya, perasaan gw campur aduk. Di saat-saat seperti itu punya kenalan di bandara akan lebih menyenangkan.

Tahukah kawan mengapa jarak waktu gw begitu sempit? Karena setelah check-in, daripada menunggu lama di bandara, mendingan pulang, karena dari rumah ke bandara cuma 15 menit dan ada jalan pintas yang bebas macet. Gw juga tidak menyangka akan ada tragedi baterai ini, jadinya santai. Kapok deh. Jadi gw sarankan kawan, sebelum masuk ruang tunggu jangan biarkan orang yang mengantar pulang dulu. Kalau tidak ada yang mengantar apa boleh buat. Seperti yang terjadi pada gw sekitar empat tahun lalu di Cengkareng. Saat itu dengan bodohnya gw membawa gunting di ransel, karena ingin mengerjakan tugas sambil menunggu pesawat -gw lupa tugas apa. Sewaktu nunggu sih pastinya tidak ada masalah, pas masuk ruang tunggunya itu yang langsung disuruh masukkan gunting tadi ke kotak transaparan yang isinya bermacam-macam gunting dan cutter. Jadi tambahan saran dari gw, kalau bisa jangan masuk ruang tunggu...

Setelah menjadi penumpang terakhir yang masuk pesawat, gw terbang aman dengan Batavia Air yang menyuguhi sepotong roti dan air minum kemasan gelas. Mirip makanan di kereta api atau di acara yang biayanya terbatas. Sampai di Cengkareng, sembari menunggu jemputan dari sepupu yang super sibuk, gw duduk di ruang tunggu penjemputan. Kalau ruang tunggu yang satu ini bebas dari X-Ray, jadi gw aman. Meskipun ada satu hal yang cukup mengganggu gw: nyamuk.

Di bawah-bawah kursi ini bersarang nyamuk-nyamuk ganas yang gw yakin sering menyerang petugas-petugas counter taksi, rental mobil dan hotel yang berada di sebelah -yang paling dekat miliknya taksi Gamya. Kursi di counter Gamya ini hanya 1, padahal petugasnya dua orang. Mungkin karena yang satu lagi diharuskan berdiri di depan untuk menawarkan layanan taksi kepada setiap penumpang lewat. Di saat-saat lengang, mbak taksi Gamya tadi duduk di kursi tunggu depan gw. Atau kalau kursinya penuh, berusaha nyelip di meja belakang yang tingginya sekitar 40 cm.

Penumpang lalu-lalang hampir setiap lima menit, kadang dalam satu waktu keluar banyak rombongan karena waktu mendarat yang berdekatan. Karena terminal ini hanya untuk penerbangan domestik, maka yang paling mencolok dari bawaan penumpangnya adalah oleh-oleh makanan. Ketika serombongan orang datang dengan menenteng kotak-kotak bertuliskan Keripik Balado Shirley atau Christine Hakim sudah bisa ditebak pastilah dari Padang. Penumpang dari Palembang pun kurang lebih sama, menenteng kardus coklat yang isinya mungkin mpek-mpek atau kerupuk kemplang. Sedangkan dari Pekanbaru, rasanya tidak ada yang menenteng oleh-oleh semacam itu, termasuk gw.

Sedudah puas menikmati pemadangan penumpang turun dari pesawat, akhirnya gw jemputan datang juga. Sepupu cewek gw ini benar-benar qatam dengan gaya menyetir ala kota besar. Sembari menerima teleon dari anak-anaknya -yang rewel menurut gw-, satu tangan tetap mengendalikan stir dengan sigap. Laju ke kiri, laju ke kanan. Gw aja yang cemas.