Antrian panjang menyambut di pintu masuk ruang tunggu keberangkatan Terminal 2 Cengkareng. Penumpang dari berbagai macam bangsa dengan tertib menunggu giliran. Ah, lagi-lagi mesin X-ray dan lagi-lagi tas gw dicurigai menyalahi aturan. Pak petugas curiga dengan botol Clean&Clear Lotion 60ml yang tampak besar di layar monitor, jadi meminta petugas satu lagi untuk memeriksanya. Karena kali ini gw yakin tidak salah, jadi gw lebih tenang. Dan memang tidak ada masalah.
Sejak Maret 2007 (atau 2008 ya, gw lupa..) peraturan penerbangan internasional melarang penumpang membawa cairan dan gel ke kabin dalam jumlah lebih dari 100ml/kemasan dan lebih dari 1000ml keseluruhannya. Barang-barang seperti lotion, pasta gigi, facial foam, parfum, atau minyak kayu putih harus dikumpulkan dalam satu plastik transparan berbentuk zipper bag. Bahkan air minum saja harus rela dibuang. Karena itu kemarin ini banyak sampah botol air minum dan kotak jus yang tergeletak di bagian pinggir lantai menuju ruang tunggu. Tapi ini karena pihak bandara tidak menyediakan satu pun tempat sampah. Atau setidaknya ada seorang petugas yang memungut sampah atau mengumpulkannya dari para penumpang.
Penumpang yang jumlahnya lebih dari 500 orang itu diberikan kartu masuk yang berbeda warna. Setiap warna mewakili lokasi kursi di pesawat. Gw kebagian yang warna kuning. Jadi nanti kita akan dipanggil sesuai warna kartu. Sistem ini sangat membantu untuk menertibkan penumpang masuk ke pesawat. Seperti biasa, pada penerbangan tujuan Timur Tengah pasti kita akan bertemu dengan para pahlawan devisa (seperti yang terpampang di terminal kedatangan: Selamat Datang Para Pahlawan Devisa). Kali ini gw cuma bertemu dengan rombongan kecil TKW yang terlihat masih berusia belasan tahun dan salah satu tasnya hampir ketinggalan. Tadinya gw pikir dia mau ke WC, tapi melihat teman-temannya juga berdiri, gw dan tante gw spontan teriak, "Mbak, mbak, tasnya!"
Kami berangkat dari Jakarta sudah hampir tengah malam, tapi saat itu kantuk hilang membayangkan rangkaian perjalanan yang akan dilalui.
Oh Italia, ku kan datang...
Tapi seperti kata peribahasa orang barat, No Pain No Gain. Entah 6, 7 atau 8 jam di pesawat, gw tidak pernah bisa mengingatnya dengan baik. Yang gw ingat tidur di pesawat selama itu, di kelas ekonomi, terjepit di nomor kursi tengah, adalah tidur dengan posisi terburuk. Bagian bawah kursi depan seharusnya menjadi tempat kaki yang nyaman, tapi ternyata setengah bagian bawah itu terisi dengan kotak peralatan elektronik TV. TV yang gw puja-puja sebagai bentuk kemewahan transportasi udara. TV yang membuat gw serasa punya bioskop pribadi. Antara ngantuk dan ingin nonton, gw memindah-mindahkan dari The Dark Knight ke Iron Man ke The Dark Knight lagi, Iron Man lagi, sampai kemudian bosan karena mulai mengantuk. Sementara itu tante gw asik dengan acara berita dan penumpang di kiri gw asik main game. Akhirnya gw pilih musik instrumen Jepang yang terdiri dari macam-macam jenis musik, tradisional sampai jazz. Dan gw tertidur..
Ketika tidur, musik tadi entah sudah berapa kali berulang-ulang terdengar hilang timbul di headset, pertanda tidur yang tidak nyenyak. Paling lama setiap gw tertidur adalah setengah jam. Selimut dan bantal mungil yang ada malah membuat ruang semakin sempit. Tertidur, terbangun, tertidur, terbangun. Sesekali diselingi snack dan minum dari para pramugari dan pramugara Emirates yang selalu tersenyum.
Selain tidur, makan (berat) di pesawat juga bukanlah hal yang membuat hati senang, apalagi ketika hal itu mengingatkan gw bahwa lidah gw belumlah go international. Nasi basmati yang individualis (tidak saling lengket seperti nasi timbel) dengan gulai kari yang pekat bukanlah makanan favorit gw. Menurut tante gw, nasi individualis ini sangat disarankan untuk penderita diabetes. Tapi yah, mengapa mereka tidak menyediakan nasi goreng basmati saja?
Satu atau dua jam sebelum mendarat (gw lupa persisnya) pramugari menghidangkan sarapan berupa omelet dan roti-rotian macam croissant dan roti gandum bulat kecil yang keras. Saat pesawat mendarat, waktu Dubai memasuki subuh. Langit masih gelap. Jutaan lampu masih kerlap-kerlip. Kaki-kaki penumpang masih pegal dan lutut kaki kanan tante gw tiba-tiba terasa sangat sakit dan tidak bisa digerakkan!