Friday, August 22, 2008

JADI PENERIMA TELEPON

Semenjak di toko, gw merangkap jadi penerima telepon. Tahukah kawan, ternyata sulitnya minta ampun! Dibutuhkan kesabaran dan ketenangan yang tiada duanya.
Dan sayangnya, aku tidak punya dua-duanya...

Tidak semua telepon masuk itu penting. Banyak yang hanya mengganggu.
Tahun lalu seminggu dua kali selama satu bulan ada telepon dari Tabloid Kriminal Lalu-lintas yang katanya miliknya Kepolisian. Mendengar namanya yang fiktif saja gw udah males. Malah yang nelpon itu lebih cocok disebut kriminal.

Pertama yang telepon bapak-bapak, bla bla bla jelasin panjang lebar tapi tidak berisi bahwa mereka mau mengadakan bakti sosial entah di kampung mana. Kemudian ada yang datang mengantar proposalnya. Lalu kembali lewat telepon sedikit mengancam dengan mengaku polisi meminta sumbangan Rp 500.000,-. Gw cuma bilang kalau bos sedang ke luar kota dan belum tahu kapan pulangnya. Ternyata mereka tidak menyerah. Selanjutnya yang telepon perempuan, yang masih bawa-bawa nama polisi buat nakutin orang. Jawaban gw tetap sama, bos belum pulang, jadi tunggu aja. Silakan gondok!

Ada juga bank yang lagaknya nyari pimpinan, ternyata cuma mau nawarin kartu kredit. Atau telepon dari tukang kredit nyari mantan karyawan gw yang masih nunggak utang.

Tidak mau kalah, toko-toko lain pun turut menyemarakkan deringan telepon, terutama pada hari libur di mana distributor tutup. Ada toko yang sengaja bertele-tele hanya untuk menyusahkan gw. Ada yang harus menelepon sampai tiga kali untuk pertanyaan yang sama.
Yang terbaru terjadi Kamis kemarin. Ada telepon yang tidak kenal "halo" dan langsung judes. Berikut cuplikannya:

Kringgg...eh..trrruuttt
Gw: "Halo." (dengan manisnya)
Mbak Toko XX (nggak tahu euy dari toko apa, udah males nanya) : "Ada ban Goodxxxx?" (judes abis)
Gw: "Ukurannya berapa?" (ikutan jutek)
Mbak Toko XX: "215/60-16!" (masih tetap judes)
Gw: "Nggak ada!" (padat, singkat, jelas dan langsung gw matikan tanpa basa-basi)

Kebetulan barangnya memang nggak ada. Kalaupun ada, gw juga ogah ngasih ke dia, udah jutek, pasti ngutang lagi. Aneh banget, mau minta barang kok galaknya minta ampun!